Anggaran Museum di Sumbawa 200 Ribu, Budayawan: Budaya Ditaruh di Emperan dan Trotoar

Bagikan berita

SUMBAWA, Samotamedia.com – Budayawan Sumbawa Aries Zulkarnaen mengaku perihatin dengan minimnya perhatian pemerintah daerah tehadap pengembangan museum daerah. Anggaran hanya dialokasikan Rp 200 ribuan setahun. Padahal keberadaan museum sangat penting untuk kemajuan suatu daerah.

”Kalau mau melihat daerah kita lebih bagus, lebih baik, lebih berkarakter maka ada dua tempat yang harus kita bangun di daerah kita. Yaitu museum dan perpustakaan,” ujarnya saat ditemui di Museum Daerah Sumbawa, Senin (25/7/2022).

”Kalau bicara kemajuan Eropa, Amerika yang sudah lama maju, kemajuannya lewat apa? Yang pertama dari museum kedua perpustakaan. Museumnya selalu ramai dikunjungi turis-turis. Atau gak usah jauh-jauh, lihat saja Bali,” ujarnya lagi.

Dia menjuluki Sumbawa kota museum. Sebab selain museum resmi yang terletak di Jalan Hasanuddin, ada banyak lagi objek-objek lain yang berpotensi dijadikan sebagai museum resmi.

Sayangnya pemerintah tidak jeli melihat itu sebagai potensi untuk mengangkat martabat daerah. Mengingat kemajuan suatu daerah tak hanya dilihat dari fisik tapi juga budaya.

”Kalau secara fisik oke-oke aja, tapi fisik bisa rusak. Tapi budaya belum tentu rusak kalau rakyatnya mencintai budayanya sendiri,” terangnya.

Dia juga perihatian dengan sikap Pemda Sumbawa yang terkesan setengah hati memajukan museum. Selama ini memajukan meseum hanya sekedar janji.

”Saya sangat miris melihat pola Pemda bahkan DPRD yang secara politis kita akan bantu. Tapi faktanya kebudayaan ditaruh di emper, di pinggir-pinggir jalan, di trotoar, bukan pasak dari karakter bangsa. Itu yang saya lihat,” tambah dia.

Aries Zulkarnaen juga menyorot sistem pengelolaan museum dan kondisi bangunannya saat ini. Menurutnya museum tak harus berupa bangunan-bangunan tua. Tapi yang terpenting bangunannya tersendiri dengan sistem perencanaan tersendiri.

Selain itu, museum juga harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang mulai dari ruang pameran, ruang audio hingga perpustakaan tersendiri. Di samping itu Pemda juga harus menempatkan SDM yang mumpuni yang bisa membawa museum lebih maju ke depan.

”Dari koleksi-koleksinya sudah oke. Tinggal pengelolaannya. Struktur organisasinya seharusnya tidak seperti ini. Harus ada bidang edukasi, bidang pemeliharaan dan pelestariannya. Selain TU. Yang ada sekarang untuk TU aja sebenarnya,” tambah dia.

Setelah SDM dan sistem pengelolaannya bagus, museum harus mendapat apresiasi masyarakat. Dengan begitu museum maju dan masyarakat menjadi cinta dengan budaya mereka sendiri. ”Caranya ajak mereka berpikir,” pungkasnya. (Jho)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...