Cegah Kekerasan Seksual terhadap Anak, Ini Langkah P2KBP3A Sumbawa

Bagikan berita

SUMBAWA, Samotamedia.com – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Sumbawa berupaya menekan jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Berdasarkan data LPA Sumbawa, jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat selama lima tahun terakhir. Tahun 2021 mencapai 20an kasus, belum termasuk yang tidak terlapor.

Data tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sumbawa melalui Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Laeli Febrianti, Rabu (29/9/2021).

Menurutnya, kebanyakan pelaku dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah orang terdekat korban. Bahkan, ada yang masih memiliki hubungan darah dengan korban.
Saat ini, korban masih dalam penanganan. ”Yang sudah dikeluarkan anggarannya belasan kasus dari 20an kasus,” ungkapnya.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Sumbawa cukup memperihatinkan. Sisi lain langkah pencegahan masih minim dikarenakan keterbatasan anggaran. Tahun 2017 jumlah anggaran untuk penanganan kasus Rp300 juta. Naik menjadi Rp400 juta di tahun 2018 lalu.

Sementara di tahun 2019 tidak ada penambahan, mentok di angka Rp400 juta. Memasuki masa pandemi tahun 2020 dan 2021, anggaran untuk penanganan kasus terdampak refocusing. Untungnya, Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak mengucurkan DAK Bantuan Operasional Perlindungan Perempuan dan Anak (BOPPA) sebesar Rp519 juta.

Dana tersebut terbagi dalam tiga menu. Penanganan kasus, pencegahan, dan operasional UPTD PPA dan Rumah Perlindungan. Tapi, porsi anggaran untuk pencegahan minim hanya Rp 53 juta. Sedangkan untuk penanganan kasus Rp392 juta, dan Penguatan UPTD PPA Rp 73 juta.

”Pencegahan ini sangat minim. Tak sebanding dengan penanganan. Kalau (Anggaran) pencegahan sedikit di BOPPA. Pemda kalau bisa menambah anggaran pencegahan,” harapnya.

Tak dipungkiri, minimnya anggaran berdampak terhadap upaya pencegahan. Seperti sosialisasi, misalnya. Selama ini, sosialisasi hanya dilakukan dua sampai tiga kali setahun. Terpusat di kecamatan dengan menghadirkan tokoh masyarakat di wilayah sasaran.

”Relative ya. Dibilang tidak cukup (Sosialisasi) juga iya. Yang kita undang sedikit, anggaran terbatas. Cukup tidak cukup (Anggaran) harus dicukupkan. Saya selalu bilang, anggaran memang sedikit tapi ini bukan kendala. Berapa pun anggaran harus tetap jalan,” ujarnya.

Ke depan, upaya pencegahan harus benar-benar dimaksimalkan. Di samping menggalakkan sosialisasi, pihaknya juga akan bersinergi dengan OPD lain seperti Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa dan lembaga Polri.

Di samping itu, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga akan memaksimalkan keberadaan UPTD PPA yang baru saja dibentuk tahun 2020 lalu.

Diberitakan sebelumnya, Pendamping Sosial Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Sumbawa, Fathilatulrahmah, S.Pd mengungkapkan, kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur meningkat.

Tahun 2021 tembus 20an kasus, belum termasuk yang tidak dilaporkan. Kasus tak terlapor kebanyakan terjadi di pelosok desa. Korbannya kebanyakan anak usia SMP dan SMA sederajat.

Parahnya lagi, penyelesaian kasus cenderung menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan cara dinikahkan. Pihaknya tidak menginginkan kasus persetubuhan anak bawah umur diselesaikan di pelaminan.

Menurutnya, menikah di usia dini bukanlah solusi. Selain berdampak negatif terhadap kesehatan reproduksi, pernikahan dini juga dapat melahirkan permasalahan baru.

”Bagi kami bukan solusi terbaik bagi anak, terlebih anak masih usia sekolah. Kalau anak bawah umur, otomatis berpengaruh kepada reproduksinya yang belum siap melahirkan karena dia masih kecil,” terangnya.

”Terus nanti pada saat berumah tangga dengan kondisi belum siap secara lahir batin, itu akan menjadi permasalahan baru apalagi dengan kondisi belum ada pekerjaan,” imbuhnya.

Kebanyakan kasus yang menimpa anak usia SMP dan SMA penyebabnya adalah pergaulan bebas. Kebanyakan pelaku adalah pacar korban. Karena sama-sama suka, lantas tak sedikit kasus yang berakhir di pelaminan.

Sementara bagi pelajar usia TK dan SD, pelakunya cenderung orang-orang terdekat korban. Mulai dari keluarga hingga oknum guru di sekolah. ”Biasanya mereka menganggap itu bentuk kasih sayang orang terdekatnya,” bebernya. (Jho)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...