DAMPAK CORONAVIRUS TERHADAP SEKTOR PUBLIK BIDANG PARIWISATA

Bagikan berita

Oleh: Rostiana (Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNSA)

Bukan hanya di Indonesia tetapi dunia juga pada saat ini digegerkan dengan adanya virus corona. Virus ini awalnya berasal dari China yang pada akhirnya menular ke berbagai Negara sampai saat ini tak terkecuali di Indonesia. Pertama kali wabah ini masuk di Indonesia diumumkan langsung oleh presiden Joko Widodo dinyatakan bahwa 2 WNI positif virus corona setelah berhubungan dengan WNA dari Jepang yang datang ke Indonesia. Warga Jepang ini terdeteksi positif virus corona setelah meninggalkan Indonesia dan beralih ke Malaysia.

Di Indonesia saat ini per 27 Mei 2020 jumlah yang positif 23.851 orang, sembuh 6.057 orang, dan meninggal 1.473 orang, jumlah yang luar biasa dan kenaikan yang signifikan setiap hari. Keadaan yang ada sekarang ini pemerintah mulai membuat kebijakan-kebijakan untuk masyarakat agar terhindar dari virus corona ini. Pemerintah mulai menutup sebagian instansi-instansi baik swasta dan pemerintah, siswa belajar dirumah dan terus dilakukan perpanjagan, beribadah pun dianjurkan untuk dirumah bahkan selama bulan puasa sampai sholat idul fitri dilakukan dirumah, tidak ada silaturrahim secara langsung dan hanya melalui virtual, menghindari kontak dekat dengan seseorang dan menghindari kerumunan, dan bekerja pun dianjurkan dirumah saja. Hal ini dilakukan pemerintah dengan tujuan agar virus ini tidak terus menerus menular pada masyarakat.

Sampai dengan sekarang di beberapa wilayah Indonesia sudah ada yang masuk ke dalam zona merah darurat virus corona. Pemerintah daerah sekarang ini tidak sedikit yang membuat kebijakan-kebijakan untuk meminimalisir penularan virus corona di daerahnya dengan cara menutup universitas, café dan restoran harus take away, pembatasan keluar masuk kota demi menjaga keselamatan masyarakat. Semua ini dilakukan pemerintah supaya penyebaran virus ini tidak meluas dan masyarakat tetap bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah saja.

Dengan adanya virus corona tentu saja berdampak pada perekonomian Indonesia yakni naiknya beberapa bahan pangan, banyak industry UMKM harus tutup menjadikan penghasilan mereka sedikit terhambat dan dampaknya mereka pun harus pulang kampung, nasib para pekerja ojek online pun sedikit kehilangan penghasilannya karena orang-orang harus berdiam diri dirumah tetapi, pemerintah sudah membuat kebijakan penangguhan kredit kendaraan bermotor untuk profesi ojek online selama 1 tahun.

Dampak yang lain pun mulai terlihat seperti langkanya masker, hand sanitizer, sarung tangan, dan alat medis lainnya. Terjadi kelangkaan seperti ini karena masyarakat terlalu takut dengan adanya virus corona sehingga mereka memborong barang-barang tersebut untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Hal ini berdampak pada tenaga medis yang saat ini kesusahan untuk mendapatkan alat bantu untuk menangani pasien positif corona. Padahal pemerintah menganjurkan penggunaan masker hanya untuk yang sakit saja dan yang tidak sakit tidak dianjurkan untuk memakai masker tetapi masyarakat tetap bebal dan memikirkan diri sendiri.

Langkahnya peralatan medis dikarenakan banyaknya penimbunan yang dilakukan oleh individu tertentu menyebabkan stok alat pelindung diri (APD) semakin menipis dan tenaga medis mengalami kesulitan tetapi mereka juga harus bertanggung jawab atas pasien yang mereka tangani, sehingga para tenaga medis ini menggunakan APD seadanya seperti memakai jas hujan dan barang lainnya yang sekiranya bisa untuk melindungi badan dari tenaga medis. Menanggapi hal ini pemerintah sudah bergerak dan kini bantuan alat medis yang berasal dari investor China kabarnya telah tiba di Tanah Air yang berupa, swab kit, masker N95, masker bedah, alat pelindung diri seperti baju, kacamata, dan sarung tangan. Alat-alat medis ini nantinya akan di distribusikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kepada rumah sakit.

Baca juga:  Covid-19 : Lockdown & Perdebatan Dua Isu Sentral

Adanya virus corona ini menyebabkan instansi-instansi negeri maupun swasta ditutup dan meminta pegawai untuk bekerja dari rumah. Adanya pembatasan pelayanan public pun diberlakukan tetapi, tidak berlaku pada semua penyelenggara pelayanan public karena ada pelayanan yang mengharuskan masyarakat datang secara langsung. Dengan pembatasan pelayanan public ini masyarakat tetap bisa menerima pelayanan secara online yang dimaksudkan pembatasan disini untuk mengurangi antrian yang ada di dalam ruangan pelayanan dan harus menjaga jarak minimal 1 meter sehingga, dapat mengurangi resiko tertular. Walaupun adanya pembatasan tapi masyarakat tetap mempunyai hak untuk mendapatkan pelayananan dari pemerintah.

Masyarakat sendiri harus waspada dan selalu menjaga kebersihannya. Di keadaan yang seperti ini masyarakat mau tidak mau harus mengikuti anjuran dari pemerintah untuk memutus mata rantai virus corona ini. Kita harus tau dampak dari virus ini bisa menyebabkan kematian dan anjuran pemerintah mengharuskan kita untuk tetap dirumah dan tidak ada kontak dengan individu lain.

Sektor publik bidang pariwisata sangat memperngaruhi. dunia pariwisata Indonesia ikut merasakan dampak yang paling besar semenjak munculnya virus corona. Terdapat tiga kota di Indonesia yang minim sekali kunjungan dari wisatawan asing. Ketakutan akan berpergian baik itu perjalanan domestik maupun mancanegara juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Hal ini terlihat juga dari efek domino yang terjadi pada sektor-sektor penunjang pariwisata, seperti hotel dan restoran maupun pengusaha retail. Dilansir dari katadata.co.id, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, dampak penyebaran virus corona dirasakan oleh pengusaha hotel, restoran, dan maskapai penerbangan yang memiliki pangsa dan nilai investasi yang masif. Dinamika ini dikatakan sebagai force majeure atau kondisi yang tidak dapat dihindari.

Tidak dipungkiri, sektor pariwisata menjadi salah satu sumber pemasukan terbanyak untuk Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan upaya agar dunia pariwisata di Indonesia selalu ramai di tengah su virus corona yang belum redam. Salah satu cara yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan insentif kepada masyarakat Indonesia berupa diskon di berbagai sektor pariwisata. Diskon tersebut digunakan untuk menjadi stimulus bagi pariwisata sebagai dampak dari virus corona (COVID-19).

Sejak awal Maret 2020, seluruh masyarakat Indonesia sudah bisa menikmati diskon tiket pesawat hingga 50 persen. Diskon ini berlaku untuk rute ke 10 destinasi wisata domestik, yaitu Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pinang dan Tanjung Pandan. Mengutip dari Kompas.com, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan 50 persen tersebut berasal dari Pemerintah, AP I dan II, Airnav Indonesia dan Pertamina. “Jumlah yang akan mendapat diskon sekitar 430.000 orang,” kata Budi. Diskon tarif diberikan kepada 25 persen dari total jumlah penumpang dalam satu penerbangan dari dan ke 10 Destinasi tersebut. Perusahaan maskapai pun menanggapi positif kebijakan pemerintah ini. Salah satunya, Garuda Indonesia yang menyambut baik langkah pemberian insentif dari pemerintah tersebut. Wakil Dirut Garuda Indonesia, Dony Oskaria menjelaskan, sekitar 25 persen seat diberikan Garuda Indonesia untuk insentif pemerintah ini. Selain itu, Citilink Indonesia selaku sister dari Garuda Indonesia juga sangat mendukung kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan adanya diskon 50 persen untuk tiket pesawat domestik. Hal ini dilakukan untuk eningkatkan daya tarik masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan pariwisata dengan biaya yang cukup murah. Insentif diskon tiket pesawat untuk rute 10 destinasi wisata ini berlaku selama tiga bulan. Tehitung sejak Maret hingga Mei 2020. Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto menjelaskan, diskon tarif insentif ini diberikan untuk semua penerbangan menuju 10 destinasi wisata. Jadi, diskon tiket pesawat tersebut tidak hanya pemberangkatan dari Jakarta saja, tapi berlaku juga dari berbagai destinasi lain dan berlaku PP (pulang pergi).

Baca juga:  Akankah Penerapan Sanksi Dapat Mengikis Kedzaliman Lingkungan?

Selain memberikan insentif berupa potongan harga 50 persen untuk tiket pesawat, pemerintah juga menurunkan pajak hotel dan restoran di 10 destinasi wisata tersebut sehingga tarifnya dinolkan. Untuk itu, pemerintah akan mensubsidi atau memberikan hibah kepada pemerintah daerah yang terdampak akibat penurunan tarif pajak hotel dan restoran di daerah sebesar Rp 3,3 triliun. Pemerintah berharap dengan adanya program insentif tersebut bisa efektif untuk meningkatkan wisatawan mancanegara dan menambah wisatawan domestik. Kebijakan mengenai diskon 50 persen untuk tiket pesawat tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tentu Anda sudah tidak sabar lagi untuk merencanakan liburan Bersama keluarga dan orang terkasih. Namun, untuk memberikan kenyamanan dan keamanan yang lebih, pastikan liburan Anda sudah terlindungi oleh Asuransi Perjalanan.

Namun, semakin kesini industri pariwisata semakin melemah akibat virus corona juga terjadi di Indonesia. Beberapa destinasi wisata seperti Bali, Yogyakarta, dan Lombok mengalami penurunan pengunjung yang drastis.

Bali adalah salah satu destinasi yang paling terkena dampaknya. Wisatawan mancanegara adalah sumber pemasukan nomor satu dari Pulau Dewata tersebut. Terlebih, wisatawan dari Cina adalah penyumbang terbanyaknya.

Pada bulan Februari 2020, sebanyak 392.824 wisatawan datang ke Bali menurut Kantor Imigrasi Bali dan angka ini turun sebesar 33% sejak bulan Januari akibat virus corona. Jumlah wisatawan Cina ke Bali pun berkurang drastis.

Tahun 2019 lalu, sekitar 2 juta wisatawan Cina mengunjungi Bali sedangkan pada bulan Februari hanya ada sekitar 4 ribu wisatawan. Diperkirakan Bali akan sulit untuk mencapai target melebih 2 juta pengunjung di tahun 2020 ini. Pantai terlihat sepi dari pengunjung. Hanya ada pengelola usaha yang duduk santai di pesisir. Beberapa kapal pesiar bahkan memutuskan untuk tidak berlabuh di Bali. Selain itu, jumlah penghuni hotel di Bali turun sampai 70 persen sejak virus corona menyebar dan hal ini berpengaruh terhadap kesejahteraan para karyawan. Meskipun begitu, Pemerintah Provinsi Bali telah memberikan imabuan kepada pengusaha hotel dan travel supaya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Akan tetapi, dampak virus corona pada ekonomi tidak bisa dihindari. Maka dari itu, beberapa karyawan hotel di Bali hanya dibayar setengah gaji bakhan ada yang di PHK. Pemotongan gaji ini diperlukan agar usaha tetap berjalan namun juga menjaga kebutuhan ekonomi para karyawan. Beberapa manajemen hotel juga meminta para perkeja mereka untuk cuti saat sedang sepi. (*)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...