Desa Labuhan Badas Krisis Air Bersih

Bagikan berita

SUMBAWA, Samotamedia.com – Masyarakat Desa Labuhan Badas, Kecamatan Labuhan Badas kerap mengalami masalah kekurangan air bersih. Kelangkaan air bersih ini telah dirasakan warga selama bertahun-tahun.

Kepala Desa Labuhan Badas, Usman menyampaikan, selama ini kelangkaan air terjadi hampir di seluruh wilayah desa. Dusun Badas dan Sampar Maras menjadi daerah yang paling terdampak, terutama di saat musim kemarau.

Menyiasati masalah tersebut, masyarakat di beberapa dusun harus membeli dari pihak lain, dan sebagian lain menadah air hujan.

”Sudah lama sekali. Terutama di Dusun Sampar Maras kalau dia musim kemarau maka dia akan beli air lewat pakai trek, pakai L300, jadi beli dia untuk kebutuhannya. Kalau musim hujan dia punya bak penampungan masing-masing rumah,” terangnya, Selasa (14/12/21).

Baca juga:  Kades Imran Lantik Pengurus Karang Taruna Pelopor Desa Maria

Masyarakat Desa Labuhan Badas mayoritas bekerja sebagai petani dan peternak. Sehingga kebutuhan air untuk hal tersebut juga cukup besar.

Menurut usman, akhir tahun 2020 telah ada program dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupa pembangunan instalasi air bersih dengan memanfaatkan mata air yang ada.

“Program tahun 2020 akhir telah kami dapat program dari Provinsi. Kita sudah melakukan pengukuran, pengecekan debit air, menentukan titik bak, pipanisasi bak bak itu,” sambungnya.

Program instalasi air bersih tersebut dihajatkan untuk memenuhi kebutuhan wilayah Barat meliputi Dusun Kanar, Suka Damai, Kayu Madu dan wilayah timur di Dusun Sampar Maras, Empan, Sampar Gadung, dan Badas.

Baca juga:  Musdes Rite, Program yang Tertunda karena Covid Kembali Diusulkan

Hanya saja, program tersebut tidak berjalan sesuai rencana dikarenakan adanya refocusing anggaran akibat marebaknya covid 19.

“Sebenarnya seandainya covid ini tidak ada, mungkin sudah jalan. Karena anggaran itu repokusing, mau di desa, mau di Kabupaten, provinsi itu merupakan kendala”, lanjutnya.

Selain memenuhi kebutuhan untuk keperluan sehari-hari, masyarakat juga membutuhkan air untuk minum ternak hargga mengairi lahan pertanian.

Karenanya, ia berharap program tersebut bisa segera dilanjutkan kembali. “Kami berharap, 2022 ini bisa terlaksana. Itu harapan kami. Karena air ini merupakan kebutuhan utama,” pungkasnya. (cr-ham)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...