Industri Pakan Kurangi Pembelian, PT Seger Khawatir Tidak Bisa Beli Jagung dari Petani

Bagikan berita

SUMBAWA – Sumbawa kembali mengekspor jagung ke Filipina. Jumlahnya mencapai 6600 ton. Pelepasan ekspor dilakukan di Darmaga Ekspor Pelabuhan Badas, Jumat (15/5/2020).

Pada kesempatan itu, perwakilan eksportir dari PT. Seger Agro Nusantara, Ferry Setyawan Sutrisno mengungkapkan bahwa serapan jagung oleh industri pakan mulai berkurang.

Saat ini, kata dia, pasar penjualan industri pakan ternak di Pulau Jawa sudah mengurangi pembelian. Karena persediaan jagung sebagai bahan baku maupun pakan masih dalam jumlah yang mencukupi.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Petani jagung bisa terseret. Di samping berimbas terhadap harga beli, pihak perusahaan juga khawatir tidak bisa membeli jagung dari para petani.

”Jika kondisi berlangsung demikian dalam jangka waktu yang lama, apa lagi saat kondisi panen raya seperti sekarang ini, ia menghawatirkan gudang tidak dapat membeli dan menampung hasil panen dari petani,” ujar Ferry.

Baca juga:  Libatkan 4.673 UMKM, JPS Gemilang Tahap III Sasar 120.000 KK

Dijelaskannya, PT Seger hanya memiliki kapasitas gudang sebesar 10.000 ton. Setiap hari perusahaan tersebut hanya bisa menampung 1.000 ton jagung dari para petani.

Terpisah, Manager PT Seger Agro Nusantara, Frans Cahyadi mengungkapkan bahwa harga jagung di pasar dalam negeri dapat dipengaruhi harga daging ayam.

Jika harga jual daging ayam menurun, maka permintaan komoditas jagung juga menurun. Praktis harganya pun terseret.

”Penjualan daging ayam korelasinya. Kalau penjualan daging ayam kita tidak bagus, maka tidak bagus harga jagung. Karena pakannya jagung bahan bakunya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa harga jagung di Sumbawa sejauh ini paling mahal dibandingkan harga di daerah lain. Harganya mencapai Rp3150 hingga Rp3200 per kilogram.

Baca juga:  Jadup Korban Gempa di Sumbawa Masih Berproses di Pusat

Jika terjadi selisih harga di lapangan, menurutnya itu disebabkan oleh komponen-komponen lain sebelum masuk gudang. Seperti biaya giling, biaya buruh hingga biaya angkut.

Mahalnya biaya komponen tersebut, kata dia, yang menyebabkan terjadinya selisih harga di tingkat petani dengan harga di gudang.

”Setahu saya market di gudang 31 sampai 32. Harga jagung di Sumbawa paling mahal. Di daerah lain di bawah itu,” katanya.

”Jagung ini bukan hanya masalah harga. Tapi ada komponen-komponen lain. Seperti biaya giling, biaya buruh. Seperti di Lunyuk biaya buruhnya sangat mahal,” pungkasnya. (red)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...