Kasus KUA Labangka, MF Kini Tahanan Kota

Bagikan berita

SUMBAWA – Terdakwa Kasus dugaan korupsi Kantor Urusan Agama (KUA), Kecamatan Lebangka atas nama MF kini bisa bernapas lega.

Pasalnya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram telah mengabulkan permohonan pengalihan dari status penahanan kurungan yang dijalaninya sejak 17 Oktober 2019 itu menjadi tahanan kota. melalui sidang lanjutan, Rabu (8/4).

Kuasa Hukum Terdakwa, Febriyan Anindita SH kepada samotamedia.com menuturkan, permohonan itu dikabulkan oleh majelis hakim melalui sidang lanjutan, Rabu (8/4).

Sidang sebelumnya digelar pada hari Selasa, 7 April 2020 sekitar pukul 14:20 Wita. Persidangan tersebut dilakukan dalam rangka pemeriksaan saksi.

Persidangan pemeriksaan saksi di pimpin oleh Ketua Majelis Hakim Sri Sulastri, SH., MH dan dua Hakim Anggota Abadi, SH dan Fathur Rauzi, SH., MH.

Dalam persidangan pemeriksaan saksi, ada lima orang saksi yang dihadirkan di depan ketiga Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram untuk dimintai keterangannya terkait dengan kasus dugaan korupsi KUA Lebangka.

Baca juga:  Selundup Ganja ke NTB, Bule Amerika Ditangkap

Proses persidangan berjalan dengan lancar yang walaupun persidangan hanya memeriksa dua orang saksi, mengingat waktu yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan proses persidangan.

”Sehingga Ketua Majelis Hakim dengan kesepakatan bersama Kuasa Hukum terdakwa serta Jaksa Penuntut Umum menunda jalannya persidangan dan dilanjutkan pada hari Rabu, 8 April 2020,” katanya.

Tadi pagi, Rabu 8 April 2020 sekitar pukul 09:30 Wita, proses persidangan pemeriksaan saksi kembali dilanjutkan.

Persidangan dibuka oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram untuk melanjutkan pemeriksaan tiga orang saksi guna didengarkan keterangannya.

”Persidangan berjalan dengan lancar, jual beli pertanyaan pun, baik pertanyaan yang diajukan oleh Kuasa Hukum Terdakwa maupun oleh Jaksa Penuntut Umum cukup alot,” tuturnya.

Setelah proses persidangan pemeriksaan saksi, lanjut dia, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram sebelum menutup persidangan, terlebih dahulu membaca Surat Penetapan Nomor : 8/PEN.PID.SUS.TPK/2020/PN MTR, tertanggal 8 April 2020.

Baca juga:  Dua Pengedar Sabu Dibekuk, Pelaku Sempat Melawan Saat Ditangkap

Surat tersebut mengenai Pengalihan status penahan terdakwa atas nama MF dari penahanan Rutan Mataram menjadi Penahanan kota di kota Mataram.

Surat Permohonan Pengalihan Penahanan telah diajukan oleh terdakwa atas nama MF melalui Kuasa Hukumnya Febriyan Anindita, SH dan kawan-kawan.

Dalam Penetapannya Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram mengabulkan Surat Permohonan Pengalihan Penahanan atas nama MF.

Dijelaskannya, yang dimaksud dengan Penahanan Kota berdasarkan Pasal 22 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yakni, penahanan yang dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa untuk melaporkan dirinya pada waktu yang ditentukan. (red)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...