Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur Meningkat, Pemda Sumbawa Terkesan Abai

Bagikan berita

SUMBAWA, Samotamedia.com – Kasus pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Sumbawa, jumlah kasus terlapor tahun 2021 mencapai 20an kasus. Jumlah tersebut terus bertambah dari sejak tahun 2017 lalu.

”Dari Januari (2021) sampai sekarang ini sudah mencapai 20an kasus terlapor. Belum terhitung yang tidak dilapor,” ungkap Pendamping Sosial Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Sumbawa, Fathilatulrahmah, S.Pd, Selasa (28/9/2021).

Kasus yang tidak dilaporkan kebanyakan terjadi di pelosok desa. Korbannya kebanyakan anak usia SMP dan SMA sederajat. Parahnya lagi, penyelesaian kasus cenderung menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan cara dinikahkan.

”Kalau kami LPA tidak menginginkan kasus persetubuhan anak bawah umur diselesaikan secara kekeluargaan. Ujung-ujungnya dinikahkan,” ujarnya.

Menurutnya, menikah di usia dini bukanlah solusi. Selain berdampak negatif terhadap kesehatan reproduksi, pernikahan dini juga dapat melahirkan permasalahan baru.

Baca juga:  Suami Merantau ke Malaysia Istri Selingkuh dengan Pria Lain

”Bagi kami bukan solusi terbaik bagi anak, terlebih anak masih usia sekolah. Kalau anak bawah umur, otomatis berpengaruh kepada reproduksinya yang belum siap melahirkan karena dia masih kecil,” terangnya.

”Terus nanti pada saat berumah tangga dengan kondisi belum siap secara lahir batin, itu akan menjadi permasalahan baru apalagi dengan kondisi belum ada pekerjaan,” imbuhnya.

Kebanyakan kasus yang menimpa anak usia SMP dan SMA penyebabnya adalah pergaulan bebas. Kebanyakan pelaku adalah pacar korban. Karena sama-sama suka, lantas tak sedikit kasus yang berakhir di pelaminan.

Sementara bagi pelajar usia TK dan SD, pelakunya cenderung orang-orang terdekat korban. Mulai dari keluarga hingga oknum guru di sekolah. ”Biasanya mereka menganggap itu bentuk kasih sayang orang terdekatnya,” bebernya.

Meski terjadi meningkatan kasus, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa malah terkesan abai. Kasus seksual terhadap anak di bawah umur tidak dijadikan sebagai program prioritas. Walhasil, langkah pencegahan minim.

Baca juga:  Sakit Berbulan-bulan, Aira Si Yatim Piatu Kok Baru Sekarang Ditangani?

”Langkah pencegahan itu yang masih kurang. Jadi yang dilakukan hanya penanganan. Jadi seolah-olah kita ini menunggu datangnya kasus. Yang saya inginkan itu, bagaimana agar banyak melakukan pencegahan untuk mengurangi kasus,” ujarnya.

LPA Sumbawa juga mengkritik lemahnya sosialisasi yang dilakukan instansi terkait. Selama ini hanya terpusat di kecamatan, dua sampai tiga kali setahun. Sementara kasus banyak terjadi di desa. Untuk menekan laju kasus, sosialisasi intensif harus dilakukan.

”Kalau LPA lembaga yang bekerja secara sosial. Tanpa pamrih. Tidak ada support anggaran, kita cari rezeki tempat lain untuk mengawal kasus korban anak. Seandainya kami punya anggaran untuk pencegahan itu, siap turun ke 24 kecamatan 157 desa,” pungkasnya. (Red)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...