Laut Hidup Kita

Bagikan berita

(Sambut HARI LAUT Sedunia, Senin 8 Juni 2020)

Hari ini senin 8 Juli 2020 kita memperingati “hari laut sedunia”.. Dalam buku-buku sejarah dijelaskan laut adalah sarana yang menyatukan Nusantara dan kita selalu jaya di samudra…tulisan ini ingin mencoba menguraikan laut dalam optik yang lain, yaitu Laut sebagai Sumber Daya sekaligus Masalah”.. untuk kita kembali menempatkan laut, pantai dan pulau dalam ruang sadar kita, kita adalah bangsa maritim..

INDONESIA NEGARA MARITIM

Negara maritim adalah negara yang berada dalam kawasan laut yang luas. Selain itu, negara maritim biasanya negara yang memiliki banyak pulau. Hal ini terlihat dengan adanya garis pantai di hampir setiap pulau di Indonesia sepanjang kurang lebih 81.000 kilometer.

Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Sejarah adalah cermin yang paling jernih, sebuah referensi terpercaya untuk melakukan suatu perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Bercermin pada sejarah, Indonesia harus mengembalikan kembali jati diri bangsa sebagai Negara Maritim.

Beranjak dengan visi yang strategi cerdas dan kreatif untuk keluar dari paradigma agraris tradisional ke arah paradigma maritim yang rasional dan berwawasan global. Jika tidak, keberhasilan masa lalu hanya akan menjadi wacana tanpa makna, jika kepemimpinan Indonesia tidak segera memutar ke arah Visi Negara Maritim.

Sebagai negara bahari, Indonesia tidak hanya mempunyai heart of sea atau satu laut utama, tetapi terdapat tiga laut utama yang membentuk Indonesia sebagai sea system yaitu laut jawa, laut flores, dan juga laut banda. Disamping laut Indonesiai juga kaya pantai dan pulau kecil (gili dalam bahasa sasak dan sumbawa).

Kekayaan dan keindahan laut Indonesia bisa kita lihat di daerah kita NTB, sepanjang bentangan pulau Lombok dan Sumbawa, salah satunya gili trawangan, gili air dan meno di utara Pulau Lombak, di bangian barat pulau Lombak ada gili kedit dan gili nangu.

Baca juga:  Pasca Covid-19 Antara “New Normal” atau “ Islam Is The Way Of Life”

Kalau di pulau sumbawa ada gili rakit dan gili medang dang yang suda mendunia Pulau Moyo dan teluk salah yang terletak di utara Sumbawa. Dahulu Lombok dan Sumbawa merupakan merupakan bagiaan jantung perdagangan laut nusantara dan telah diintegrasi oleh jaringan pelayaran dan perdagang internasional.

Masyarakat NTB disampaing sebagai masyara agraris, juga sebagai masyarakat maritim yang tangguh. Sejak jaman dulu suda memanfaatkan kekayaan laut dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. NTB yang merupakan bagian dari 17.000 gugusan pulau, antar pulau satu dengan lainnya dipisahkan oleh laut.

Luas lautan dibandingkan luas daratan di dunia mencapai kurang lebih 70 berbanding 30, sehingga perlu kebijakan dan trategis dalam tata kelola kemaritiman dalam menjaga laut, pantai dan pulau-pulau yang ada.

Kalau kita perhatikan visi dan misi kemaritiman Indonesia, yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan dan kemanan untuk mendukung terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai visi maritim Indonesia. Lewat visi kemaritiman ini sumber daya laut dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat Indoneia, karena masyarakat kita sangat tergantung dengan laut dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.

SUMBER DAYA ALAM DAN POTENSI LAUT

Masyarakat pesisir Lombak dan Sumbawa sebagian besar masih sangat bergantung pada sumber daya laut yang menghasilkan beragam produk kelautan dan perikanan. Terbukti dari banyaknya profesi yang mengandalkan sumber daya laut sebagai objek utama untuk mendapatkan penghasilan.

Kondisi itu, terjadi hampir di semua provinsi diseluruh Indonesia, termasuk di Lombok dan Sumbawa, memiliki wilayah laut yang luas tersebut, diketahui menjadi kawasan yang paling disukai oleh banyak biota laut dan makhluk hidup lainnya. Itu kenapa, wilayah laut Lombok dan Sumbawa menjadi kawasan perairan yang memiliki keanekaragaman hayati menjadi warisan dunia, hal ini harus disyukuri dan dijaga.

Baca juga:  Nilai Kerik Salamat Dalam Menghadapi New Normal Pasca Covid-19

Laut yang sangat luas dan kaya di satu sisi memberikan mimpi dan gairah akan kekayaan dan mimpi yang luar biasa. Di sisi lain, pada saat bersamaan, terdapat banyak sekali masalah yang jika kita bayangkan akan membuat nyali kita ciut dan frustasi.

Mulai dari penguasaan asing atau pemodal sampai pada pengrusakan dan pencaran laut oleh tangan kita sendiri, yang kadang kita dikejurkan dangam adanya panangksp ikan ngunakan bom ikan, belum lagi diperparah masuknya kapal panangkap ikan asing mengunakan jaring pukat harimau yang mengeruk semua isi lait kita tampa batas.

Semua ini harus kita jaga dan lindungi, karena merusak laut sama saja dengam merusak hidup kita, bengitu juga, sebalinya menjaga dan mensyukuri akan kayaan laut kita, sama saja dengan kita menjaga dan mensyukuri hidup kita.

AKU ANAK PANTAI, KITA ORANG LAUT

Penulis ingin mengajak kita semua sebagai masyarakat NTB dan Nusantara pada umumnya, bahwa kita ini sebenarnya anak pantai atau orang laut, tetapi kita sudah lupa pada laut yang menghidupi kita, seakan-akan sama sekali tidak mengenal laut. Di pulai lombok ada 3 gili canti yang mendunia, di pulau Sumbawa ada Teluk Saleh yang manjadi wariran dunia dengan kekayaan biota lautnya. Mari kita jaga warisan dunia pantai dan laut NTB untuk anak cucu kita. Aku anak pantai, kita orang laut.

Penulis : Wahyu Indah Widya Astuti

(Mahasiswa Program Studi Fisika-Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Univeristas Samawa-Sumbawa Besar NTB)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...