Mahasiswa STIH Muhammadiyah Bantu Penderita Tumor Ganas

Bagikan berita

BIMA – Rombongan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima mendatangi rumah Intan (16), penderita tumor ganas di Dusun Rite 1 Desa Rite Kecamatan Ambalawi, Selasa (22/12/2020).

Kedatangan rombongan mahasiswa itu disambut haru oleh keluarga yang tengah duduk melingkar ditempat tidurnya Intan. Sementara kondisi intan masih terbaring lemah dengan beban penyakit yang membengkak di leher bagian kanannya.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIH Muhammadiyah Bima, Andi Rahman kepada keluarga menyampaikan maksud kedatangannya bersama teman – temannya.

“Maksud kedatangan kami, ingin menyerahkan sedikit bantuan yang telah kumpulkan sejak Jum’at sore kemarin,” kata Andi.

Kepada Samota Media, Andi menjelaskan bahwa upaya mengumpulkan dana dilakukan dengan cara penggalangan bantuan di jalanan. “Uang senilai Rp6.000.000 dan beras 10 kg,” terangnya.

Baca juga:  Jelang Pemilihan, Polres Dompu Rapid Tes Seluruh Personil

Andi Rahma berharap dengan adanya bantuan itu dapat meringankan beban keluarganya Intan. “Kami doakan semoga intan diberikan kesembuhan oleh Allah SWT,” ucap Ketua BEM.

Afifah, sepupunya intan mewakili keluarga dengan penuh rasa haru menyampaikan ucapan terima kasih kepada mahasiswa STIH Muhammadiyah yang telah menunjukkan kepeduliannya.

“Mewakili keluarga saya ucapkan terima kasih, dan semoga teman – teman mahasiswa diberikan kesehatan,” ungkapnya.

Intan (16) adalah anak pertama dari bapak Ivan dan Ibu Asriana. Bapaknya berprofesi sebagai buruh bangunan dan ibunya mengurus rumah tangga.

Orang tua Intan, Ivan mengatakan bahwa anaknya menderita tumor sudah satu tahun setengah lamanya. Bahkan pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Propinsi (RSUP) Mataram selama lima bulan untuk menjalani Kemotherapy.

Baca juga:  HUT RI Ke-75, GP Ansor KSB Gelar Istighosah

“Kata dokter tidak bisa dilakukan operasi karena pembengkakan dibagian leher,” jelasnya.

Ivan mengatakan bahwa ada keinginannya untuk membawa anaknya untuk kembali dilakukan kemotherapy namun masih terkendala dengan biaya dan juga kesiapan anaknya untuk menghadapi proses terapi.

“Makanya kami rawat di rumah saja dengan pengobatan tradisional dan usaha doa,” tutur ayah Intan. (Dir)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...