Mengenal Perguruan Margaluyu 151, Solusi Pembinaan Mental Generasi Muda

Bagikan berita

BIMA – Abdul Wahid, S.Sos. Biasa disapa Bang Wahid. Pria kelahiran Rite 21 November 1973 ini adalah Kepala Desa Rite Kecamatan Ambalawi dua periode. Yakni periode 2004-2009 dan periode 2009-2014.

Usai menjabat Kades, Bang Wahid memilih menjadi pelatih bela diri perguruan Margaluyu 151 Cabang Kabupaten Bima.

Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga alumni UVRI Makasar ini memang dikenal memiliki keahlian bela diri.

Periode pertama menjadi kepala desa, dia sempat mendirikan perguruan Margaluyu 151 dan mengadakan latihan. Namun tidak bertahan lama karena berbagai kendala.

BACA JUGA : UPDATE 25 April: Terus Melonjak, Positif Corona NTB Tembus 180 Kasus

Tahun 2019 kembali berlanjut dengan didirikannya cabang perguruan itu di Kabupaten Bima. Berpusat di daerah domisilinya, Desa Rite kecamatan Ambalawi.

Awalnya dia hanya memilik 4 anggota. Namun tak terasa, memasuki tahap 3 peguruannya itu telah mewisudahkan 51 orang anggota, dan puluhan orang masih dalam proses pendidikan.

Abdul Wahid, S.Sos.

Bang wahid menuturkan, bela diri gerak badan Pencak Margaluyu 151 ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Mataram. Dibawah naungan Sultan Agung Hanyokro Kusumo, yang waktu itu dikembangkan oleh pemuda yang bernama Andhak Dinata.

Baca juga:  Pembangunan Sirkuit MotoGP Mandalika Capai 30 Persen

Andhak adalah putra dari Sunda Kelapa atau dari perahyangan Jawa Barat. Konon dia sebagai abdi Keraton Mataram. Menurut cerita, Ki Andhak meninggal pada 6 Juni 1969 silam, pada usia 394 tahun.

Di masanya, Margaluyu 151 sulit dikembangkan. Karena hidup di masa penjajahan Belanda. Namun dengan kegigihan Andhak, Margalayu terus berkembang meski dengan cara sembuyi-sembunyi.

Dia mengajarkan jurus-jurusnya itu kepada anak pemuda. Sebagai alat bela diri, guna menghalau penjajah. ”Memang pada waktu itu bela diri ini khusus untuk menghalau musuh Belanda,” tutur Bang Wahid.

Setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 silam, Margaluyu diresmikan. Tepatnya pada 6 Juni 1946. Seiring berjalannya waktu, Margaluyu 151 terus berkembang pesat sampai saat ini.

”Perguruan Margaluyu ini merupakan organisasi bela diri yang pertama yang berazaskan Pancasila dan UUD 1945. Sejarah telah membuktikan bahwa Margaluyu 151 perguruan tertua di Indonesia,” katanya.

Kehadiran perguruan ini di Kabupaten Bima diharapkan dapat memberikan kontribusi besar. Terutama bagi para generasi muda. Dikatakan, gerakan-gerakan badan yang menjadi jurus di perguruan Margaluyu 151 adalah olah nafas untuk kesehatan jasmani dan rohani.

Baca juga:  Papu Gomez: Jika Serie A Berlanjut, Itu Akan Sulitkan Pemain

“Sebenarnya gerakan Margaluyu ini adalah gerakan olah napas untuk pengobatan. Anggota Margaluyu dapat menempatkan posisi tenaga dalam dengan benar. Istilahnya kita mengambil kekuatan dari sang pencipta,” terangnya.

Lebih lanjut bang Wahid menjelaskan, keberadaan perguruan Margaluyu 151 sebagai upaya membantu pemerintah dalam menciptakan generasi muda yang tangguh secara fisik dan sehat secara psikis.

Sejauh ini, kata dia, cita-cita tersebut erbukti berhasil. Banyak orang tua yang mengakui bahwa Margaluyu berdampak baik bagi perkembangan karakter anaknya. ”Ada orang tua mereka yang mengaku, bahwa anaknya sudah banyak perubahan,” katanya.

Menurutnya, perubahan perilaku anak itulah tujuan utama dari adanya Margaluyu 151. Oleh karenanya, ia sengaja merekrut anak – anak muda yang pernah salah memilih pergaulan. Untuk kemudian diproses melalui gerakan badan dan olah nafas. Dan sampai pada tahap Tarekat nanti ia berharap anggotanya dapat membantu mengobati orang lain. (cr-Dir)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...