Pemerataan Kurban, Antar Hewan Pakai Perahu ke Pulau Terpencil

Bagikan berita

Samotamedia.com – Hari raya kurban menjadi salah satu moment yang dinanti setiap umat muslim. Tak hanya karena bisa pesta bakar sate bersama, tapi juga poin terpentingnya adalah kurban menjadi momentum yang tepat untuk berbagi pada sesama.

Tahun ini, hari raya Idul Adha kemungkinan jatuh pada Jum’at, 31 Juli 2020. Meski semangat berbagi saat kurban cukup tinggi, tapi satu permasalahan yang sering terjadi setiap Idul Adha: angka persebaran daging kurban tidak merata.

Dari riset yang dilakukan oleh Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS). Pada tahun 2019 proyeksi daerah dengan potensi surplus kurban terbesar didominasi oleh daerah perkotaan Jawa Barat (18 ribu ton), diikuti DKI Jakarta (16 ribu ton), perkotaan Banten (10 ribu ton), serta perkotaan di Jawa Timur (9 ribu ton).

Kondisi berbeda terjadi di kawasan pedesaan, di mana terdapat defisit kurban terbesar antara lain pedesaan Jawa Timur (minus 22 ribu ton), pedesaan Jawa Tengah (minus 16 ribu ton), pedesaan Sulawesi Selatan (minus 9 ribu ton), pedesaan Jawa Barat (minus 5 ribu ton), serta pedesaan Lampung (minus 5 ribu ton).

Doc Insan Bumi Mandiri

Adanya ketimpangan antara jumlah kurban di kota dan di desa berdampak pada tidak meratanya distribusi kurban kepada para penerima kurban (mustahik). Padahal, potensi mustahik di desa lebih besar daripada di kota, yaitu 24,9 juta jiwa. Sedangkan di kota hanya 18,2 juta jiwa. Artinya, kurban di kota surplus sebanyak 80 ribu ton daging, sedangkan di desa defisit 75 ribu ton daging.

Baca juga:  Sahkan Perda Perkawinan Anak, Gubernur NTB Diganjar Penghargaan

Itu baru di pulau Jawa, bagaimana dengan pedalaman Indonesia timur?

Distribusi daging kurban yang tidak merata juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai provinsi yang tergolong daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia, masyarakat di NTT masuk ke dalam salah satu penduduk dengan kategori mustahik darurat atau masyarakat yang paling berhak mendapatkan daging kurban. Golongan masyarakat ini memiliki pengeluaran per kapita kurang dari Rp200 ribu per bulan dan jumlahnya diperkirakan mencapai 12.000 penduduk.

Sebagai bentuk mendukung program pemerintah dalam pemerataan sebaran daging kurban, Insan Bumi Mandiri sudah 4 tahun menyalurkan kurban ke pedalaman Indonesia timur. Wilayah yang menjadi fokus penyebaran Kurban di Pedalaman antara lain Maluku, Papua Barat, Pulau Salura, Lembata, Malaka, Alor, TTS, Ende, Ngada, Flores Timur, Sikka, Manggarai, Dompu, dan Bima.

Kabar baiknya, tak hanya Indonesia timur. Kini Insan Bumi Mandiri pun akan menyalurkan kurban hingga ke pelosok wilayah lainnya. Seperti di Padang Sidempuan, Musi Rawas, Sambas, Parigi Moutong Pandeglang, Cianjur, Kebumen, dan Probolinggo.

Insan Bumi Mandiri tahun ini menargetkan menyalurkan 3.000 kurban setara kambing ke seluruh pelosok nusantara.

Baca juga:  Glenn Fredly Meninggal Karena Meningitis

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, kurban yang telah dilakukan selama 4 tahun ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama bagi para peternak lokal di pedalaman.

”Biasanya warga sini cuma bisa jual 2-3 kambing saja per bulan. Tapi, sejak adanya program ini sampai ke desa, peternak-peternak lokal macam kami ini bisa jual sampai 10 ekor kambing, bahkan lebih. Masyarakat juga yang tidak pernah dapat daging kurban, sekarang bisa menikmati lezatnya daging kurban,” jelas Em Abdullah, warga lokal Kabupaten Belu, NTT.

Doc Insan Bumi Mandiri

Koordinator lapangan Kurban di Pedalaman 2020 Insan Bumi Mandiri, Adzkia Arif mengatakan, kurban bukan hanya momen kebahagiaan untuk masyarakat muslim di pedalaman. Tapi juga bisa dirasakan oleh warga non muslim.

”Tak hanya muslim, non-muslim juga ikut mendapatkan daging kurban. Sehingga pesan kebaikan dan toleransi yang disampaikan melalui kurban ini benar-benar bisa ikut dirasakan oleh semua pihak,” ujar Adzkia Arif.

Tujuan Kurban di Pedalaman memang memanfaatkan para peternak lokal sebagai sumber utama dalam penyedia hewan kurban, agar geliat ekonomi semasa kurban bisa lebih dirasakan oleh masyarakat di wilayah tersebut.

Target penerima manfaatnya pun adalah masyarakat di pulau-pulau terpencil sekitar. Sehingga program Kurban di Pedalaman ini berasal dari mereka dan untuk mereka, saudara-saudara kita di seluruh pedalaman Indonesia. (red)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...