Sulitnya Pasokan Air, Petani di Jotang Buat Bendungan Darurat

Bagikan berita

SUMBAWA – Sulitnya pasokan air masih menghantui para petani di Sumbawa. Sebagaimana yang dirasakan oleh petani Orong Marontang Desa Jotang Kecamatan Empang ini.

Untuk bisa mendapatkan pasokan air, para petani terpaksa bembuat bendungan darurat. Bendungan dibuat dengan cara membendung parit di sekitar areal lahan menggunakan karung yang diisi tanah-pasir dan batang pisang.

Karung-karung dan batang pisang itu disusun. Agar tidak terseret arus, petani menggunakan lumpur dan kayu serta bambu yang diikat kuat sebagai penahan.

Kades Jotang, Herman Hakim, S.IP

Kepala Desa Jotang, Herman Hakim, S.IP kepada Samota Media mengatakan, kondisi ini telah berlangsung lama. Sehingga panen yang dulunya dua sampai tiga kali setahun hanya bisa dilakukan sekali.

”Dulunya lancar sampai tiga kali setahun. Sekarang tidak beraturan, kadang sekali kadang dua kali setahun,” ujar Kades yang dilantik Maret 2020 lalu ini, Jumat (5/6/2020).

Baca juga:  Konsep Kampung Sehat akan Diterapkan di Semua Dusun di Labuhan Sumbawa

Diungkapkan, luas lahan orong Marontang sekitar 50 hektar. Untuk memenuhi pasokan air, para petani harus memparbaiki bendungan darurat itu setiap musim dengan cara swadaya.

Ke depannya, kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah desa. ”Ingin kita bangun cek dam permanen. Harapan saya selaku kepala desa, kami harap perhatian dinas terkait. Karena selama ini masyarakat hampir setiap tahun memperbaiki secara manual secara swadaya,” ujarnya.

Bendungan tiu angat di Desa Batu Tering

Sementara di Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu, bendungan Tiu Angat sudah tak berfungsi. Bendungan rusak akibat diterjang banjir pada tahun 2019 lalu. Akibatnya, produktifitas hasil pertanian pun menurun drastis.

Berdasarkan hasil pantauan pemerintah Desa Batu Tering, penghasilan petani tahun ini (2020 red) terjun bebas. Sebelumnya penghasilan petani bisa mencapai 7 hingga 8 ton per hektare. ”Tahun ini hanya 3 saja,” ungkap Kepala Desa Batu Tering, Alwan Hidayat belum lama ini.

Baca juga:  Pemdes Rite dan BPD Bahas Rancangan APBDes 2021

Menurutnya, rusaknya bendungan tiu angat membuat para petani resah. Sebab sekitar 350 hektar lahan petani bergantung dengan air bendungan tersebut.

”Memang pada tahun lalu sempat dibantu oleh pemerintah kabupaten untuk perbaikan melalui penaganan bantuan bencana alam. Dengan harapan selanjutnya bisa mendapat perhatian serius pada tahun berikutnya,” kata Kades.

Atas kondisi yang cukup memperihatinkan itu, Kades berharap agar di tahun anggaran 2021 mendatang bendungan itu bisa ditangani dengan serius oleh pemerintah.

”Keberadaan bendungan tersebut menjadi ruh bagi kesinambungan hidup bagi sebagian besar petani desa Batu Tering,” pungkasnya. (red)

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...