Survey MY Institute: Elektabilitas Mo—Novi Tertinggi

Bagikan berita

Pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah—Dewi Noviany M.Pd atau disingkat Mo-Novi, memiliki elektabilitas tertinggi dari pasangan bakal calon lainnya. Berdasarkan hasil survey lembaga survey MY Institute yang dirilis belum lama ini, elektabilitas Mo—Novi mencapai 45,2 persen, unggul signifikan dari pasangan HM Husni Djibril B.Sc—Dr. H. Muhammad Ikhsan M.Pd (Husni—Ikhsan) yang meraih 23%, dan pasangan Ir. H. Syarafuddin Jarot MP—Ir. H. Mokhlis M.Si (Jarot—Mokhlis) 16%. Sedangkan dua pasangan bakal calon jalur independen, Ir Talifuddin M.Si—Sudirman SIP (Talif—Sudir) 10% dan Drs. H. Rasyidi Mukhtar—H Sudirman Malik S.Pd (Rasyidi—Sudirman) hanya 1,2%, calon lain 0,4% dan tidak menjawab/golput/merahasiakan 4,2%.

Ketua Pelaksana Survey MY Institute, Yadi Satriadi S.Ikom, yang dihubungi samotamedia, Kamis (26/3), mengatakan, survey tersebut dilakukan sepanjang akhir Februari hingga Awal Maret 2020 dengan metode Multistage Random Sampling. Dalam survey ini terdapat Margin of Error 4,6%, tingkat kepercayaan 95%, populasi sejumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tersebar di seluruh desa wilayah Kabupaten Sumbawa dengan persebaran jenis kelamin yang proporsional juga berdasarkan perbandingan DPT, sehingga mendapatkan sampel sejumlah 500 orang.

Dalam survei sosial ini jelas Yadi, ada metode-metode yang digunakan sehingga jumlah 500 adalah angka yang cukup tinggi dalam survey. Bahkan terkadang beberapa lembaga survei nasional yang mensurvei se-Indonesia pun menggunakan 400 responden. Angka tersebut didapatkan dari perhitungan ilmiah. Selain itu, kekuatan dari survei bukan hanya dari cara mendapatkan data, melainkan di penyebaran sampelnya. Maka, lembaga survei yang sering melakukan aktivitas survei kadang menggunakan respondennya kecil namun persebarannya yang proporsional berdasarkan metode. Karenanya, ada yang mendapatkan data dari wawancara langsung, angket dan bahkan menggunakan via handphone. “Semuanya dikatakan valid jika persebarannya benar dan yang menjadi responden tepat berdasarkan persebaran yang dihitung secara ilmiah,” imbuhnya.

Terkadang polling menggunakan online atau surat yang bebas diisi dan dijawab oleh orang, hasilnya bisa tidak valid karena persebarannya yang tidak proporsional. Yadi mencontohkan, polling online dari segi persebaran umur saja, kadang di bawah umur DPT masih bisa mengisi online. Juga kadang umur bisa dibuat-buat, belum lagi ketidakvalidan yang lainnya. Dapat disampaikan bahwa metode dan persebaran yang dilakukan MY Institute dalam survei ini telah berdasarkan metode penelitian kuantitatif.

Kemudian terkait Periode survey, Yadi menegaskan agar dibedakan antara periode survei dengan waktu survei. Waktu survei yang dilakukan MY Institute adalah akhir Februari hingga awal Maret 2020, sedangkan periodenya, Februari-April 2020. Periode adalah rentang waktu MY Institute untuk menganalisis perkembangan dan perubahan peta politik yaitu selama 3 bulan. Periode muncul dari pilihan-pilihan lembaga survei, tergantung kemampuan. “Seperti survei Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Anggota Legislatif yang pernah dilakukan MY Institute kita menggunakan periode 3 bulan karena 3 bulan akan ada evaluasi dan dalam 3 bulan kecenderungan peta/perilaku pemilih bisa berubah,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei, pasangan Mo-Novi berada pada posisi teratas yaitu 45,2% pilihan masyarakat, disusul Husni-Ikhsan 23%, Jarot–Mukhlis 16%, Talif-Sudirman 10%, Rasyidi–Sudirman Malik 1,2%,  dan pasangan lain 0,4% di antaranya bermunculan nama Nurdin Ranggabarani dan Syukri Rahmat. Sedangkan yang tidak memilih sebanyak 4,2%. Pemilihan nama-nama bakal calon yang muncul dalam surveinya menurut Yadi, subjektivitas dari MY Institute, yaitu melihat nama-nama bakal calon yang sudah memiliki pasangan bahkan yang sudah mendaftarkan diri di KPU Kabupaten Sumbawa. 

Bagikan berita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita terkait

Cari Berita Lain...

IKLAN